Pengertian evolusi
Evolusi itu suatu
perubahan pada makhluk hidup yang terjadi secara berangsur-angsur dalam jangka
waktu yang lama sehingga terbentuk spesies baru. Sedangkan, berdasarkan ilmu
biologi, evolusi merupakan cabang biologi yang mempelajari sejarah asal-usul
makhluk hidup dan keterkaitan genetik antara makhluk hidup satu dengan yang
lain. Evolusi biologi mencakup dua peristiwa, yaitu:
Evolusi anorganik itu evolusi mengenai asal-usul makhluk hidup yang ada di muka bumi, berdasarkan
fakta dan penalaran teoritis;
evolusi organik (evolusi biologis) merupakan
evolusi filogenetis, yaitu mengenai asal-usul spesies dan hubungan
kekerabatannya.
Terdapat dua mekanisme utama yang mendorong evolusi:
1 . Seleksi alam yang
merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat terwaris yang berguna untuk
keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme menjadi lebih umum dalam suatu
populasi - dan sebaliknya, sifat yang merugikan menjadi lebih berkurang.
Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat yang menguntungkan lebih
berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak individu pada generasi
selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan ini. Setelah beberapa
generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi
perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan
seleksi alam.
2. Hanyutan
genetika (Bahasa Inggris: Genetic Drift) yang
merupakan sebuah proses bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi
sifat dalam suatu populasi. Hanyutan genetika dihasilkan dari probabilitas
apakah suatu sifat akan diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan
bereproduksi.
Seleksi Alam
Seleksi alam adalah proses di mana mutasi genetika yang
meningkatkan reproduksi menjadi (dan tetap) lebih umum dari generasi yang satu
ke genarasi yang lain pada sebuah populasi. Ia sering disebut sebagai mekanisme
yang "terbukti sendiri" karena:
Variasi terwariskan terdapat dalam populasi organisme. Organisme
menghasilkan keturunan lebih dari yang dapat bertahan hidup.Keturunan-keturunan
ini bervariasi dalam kemampuannya bertahan hidup dan bereproduksi.
Kondisi-kondisi ini menghasilkan kompetisi antar
organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu, organisme
dengan sifat-sifat yang lebih menguntungkan akan lebih berkemungkinan
mewariskan sifatnya, sedangkan yang tidak menguntungkan cenderung tidak akan
diwariskan ke generasi selanjutnya.
Kasus khusus seleksi alam adalah seleksi
seksual, yang merupakan seleksi untuk sifat-sifat yang meningkatkan
keberhasilan perkawinan dengan meningkatkan daya tarik suatu organisme. Sifat-sifat
yang berevolusi melalui seleksi seksual utamanya terdapat pada pejantan
beberapa spesies hewan. Walaupun sifat ini dapat menurunkan keberlangsungan
hidup individu jantan tersebut (misalnya pada tanduk rusa yang besar dan warna
yang cerah dapat menarik predator).[60] Ketidakuntungan
keberlangsungan hidup ini diseimbangkan oleh keberhasilan reproduksi yang lebih
tinggi pada penjantan.
Hanyutan Genetika
Hanyutan genetika atau ingsut genetik merupakan
perubahan frekuensi alel dari satu generasi ke generasi selanjutnya yang
terjadi karena alel pada suatu keturunan merupakan sampel acak (random
sample) dari orang tuanya Waktu untuk sebuah alel menjadi tetap oleh
hanyutan genetika bergantung pada ukuran populasi, dengan fiksasi terjadi lebih
cepat dalam populasi yang lebih kecil.
Walaupun seleksi alam bertanggung jawab terhadap
adaptasi, kepentingan relatif seleksi alam dan hanyutan genetika dalam
mendorong perubahan evolusi secara umum merupakan bidang riset pada biologi
evolusi.
Investigasi ini disarankan oleh teori netral evolusi molekul, yang mengajukan
bahwa kebanyakan perubahan evolusi merupakan akibat dari fiksasi mutasi
netral yang tidak memiliki efek seketika pada kebugaran suatu
organisme.Sehingga, pada model ini, kebanyakan perubahan genetika pada sebuat
populasi merupakan akibat dari tekanan mutasi konstan dan hanyutan genetika.
Akibat evolusi
Evolusi mempengaruhi setiap aspek dari bentuk dan
perilaku organisme. Yang paling terlihat adalah adaptasi perilaku dan fisik
yang diakibatkan oleh seleksi alam. Adaptasi-adaptasi ini meningkatkan
kebugaran dengan membantu aktivitas seperti menemukan makanan, menghindari
predator, dan menarik lawan jenis. Organisme juga dapat merespon terhadap
seleksi dengan berkooperasi satu sama lainnya, biasanya dengan saling membantu
dalam simbiosis. Dalam jangka waktu yang lama,
evolusi menghasilkan spesies yang baru melalui pemisahan populasi leluhur
organisme menjadi kelompok baru yang tidak akan bercampur kawin.
Akibat evolusi kadang-kadang dibagi menjadi makroevolusi dan mikroevolusi.
Makroevolusi adalah evolusi yang terjadi pada tingkat di atas spesies, seperti kepunahan dan spesiasi. Sedangkanmikroevolusi adalah
perubahan evolusioner yang kecil, seperti adaptasi yang terjadi dalam spesies atau
populasi. Secara umum, makroevolusi dianggap sebagai akibat jangka panjang dari
mikroevolusi.Sehingga perbedaan antara mikroevolusi dengan makroevolusi
tidaklah begitu banyak terkecuali pada waktu yang terlibat dalam proses
tersebut.
Namun, pada makroevolusi, sifat-sifat keseluruhan
spesies adalah penting. Misalnya, variasi dalam jumlah besar di antara individu
mengijinkan suatu spesies secara cepat beradaptasi terhadap habitat yang baru,
mengurangi kemungkinan terjadinya kepunahan. Sedangkan kisaran geografi yang
luas meningkatkan kemungkinan spesiasi dengan membuat sebagian populasi menjadi
terisolasi. Dalam pengertian ini, mikroevolusi dan makroevolusi dapat
melibatkan seleksi pada tingkat-tingkat yang berbeda, dengan mikroevolusi
bekerja pada gen dan organisme, versus makroevolusi yang bekerja pada
keseluruhan spesies dan mempengaruhi laju spesiasi dan kepunahan.
Organisme sederhana oleh karenanya merupakan bentuk
kehidupan yang dominan di bumi dalam sejarahnya sampai sekarang. Kehidupan
kompleks tampaknya lebih beranekaragam karena ia lebih mudah diamati.
Kontroversi teori evolusi dan pembuktiannya
Sebagian orang yang pernah mendengar "teori
evolusi" atau "Darwinisme" mungkin beranggapan bahwa
konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi dan tidak
berpengaruh sedikit pun terhadap kehidupan sehari-hari. Anggapan ini sangat
keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi.
Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat
yang menyesatkan sebagian besar manusia. Filsafat tersebut adalah
"materialisme", yang mengandung sejumlah pemikiran penuh kepalsuan
tentang mengapa dan bagaimana manusia muncul di muka bumi. Materialisme
mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi
dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran
ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta.
Di abad ke-20, teori evolusi telah terbantahkan tidak
hanya oleh ilmu biologi molekuler, tapi juga oleh paleontologi, yakni ilmu
tentang fosil. Tidak ada sisa fosil yang mendukung evolusi yang pernah
ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di seluruh penjuru dunia Fosil
adalah sisa jasad makhluk hidup yang pernah hidup di masa lampau. Bentuk dan
susunan kerangka makhluk hidup, yang tubuhnya segera terlindungi dari sentuhan
udara, dapat terawetkan secara utuh. Sisa kerangka ini memberi kita keterangan
tentang sejarah kehidupan di bumi. Jadi, catatan fosil lah yang memberikan
jawaban ilmiah terhadap pertanyaan seputar asal usul makhluk hidup.
Coelacanth ternyata masih hidup
Hingga 70 tahun
yang lalu, evolusionis mempunyai fosil ikan yang mereka yakini sebagai
"nenek moyang hewan-hewan darat". Namun, perkembangan ilmu
pengetahuan meruntuhkan seluruh pernyataan evolusionis tentang ikan ini.
Ketiadaan fosil bentuk peralihan antara ikan dan amfibi adalah fakta yang juga
diakui oleh para evolusionis hingga kini. Namun, sampai sekitar 70 tahun yang
lalu, fosil ikan yang disebut coelacanth diterima sebagai
bentuk peralihan antara ikan dan hewan darat. Evolusionis menyatakan bahwa coelacanth,
yang diperkirakan berumur 410 juta tahun, adalah bentuk peralihan yang memiliki
paru-paru primitif, otak yang telah berkembang, sistem pencernaan dan peredaran
darah yang siap untuk berfungsi di darat, dan bahkan mekanisme berjalan yang
primitif. Penafsiran evolusi ini diterima sebagai kebenaran yang tak perlu
diperdebatkan lagi di dunia ilmiah hingga akhir tahun 1930-an.
Namun, pada tanggal 22 Desember 1938, penemuan yang
sangat menarik terjadi di Samudra Hindia. Seekor ikan dari famili coelacanth,
yang sebelumnya diajukan sebagai bentuk peralihan yang telah punah 70 juta
tahun yang lalu, berhasil ditangkap hidup-hidup. Tak diragukan lagi, penemuan
ikan coelacanth"hidup" ini memberikan pukulan hebat bagi
para evolusionis. Ahli paleontologi evolusionis, J. L. B. Smith, mengatakan ia
tidak akan terkejut lagi jika bertemu dengan seekor dinosaurus yang masih
hidup. (Jean-Jacques Hublin, The Hamlyn Encyclopædia of Prehistoric Animals,
New York: The Hamlyn Publishing Group Ltd., 1984, hal. 120). Pada
tahun-tahun berikutnya, 200 ekor coelacanth berhasil ditangkap
di berbagai tempat berbeda di seluruh dunia.
Manusia berahang kera
Tengkorak Manusia Piltdown dikemukakan kepada dunia
selama lebih dari 40 tahun sebagai bukti terpenting terjadinya "evolusi
manusia". Akan tetapi, tengkorak ini ternyata hanyalah sebuah kebohongan
ilmiah terbesar dalam sejarah.
Pada tahun 1912, seorang dokter terkenal yang juga
ilmuwan paleoantropologi amatir, Charles Dawson, menyatakan dirinya telah
menemukan satu tulang rahang dan satu fragmen tengkorak dalam sebuah lubang di
Piltdown, Inggris. Meskipun tulang rahangnya lebih menyerupai kera, gigi dan
tengkoraknya menyerupai manusia. Spesimen ini diberi nama "Manusia
Piltdwon". Fosil ini diyakini berumur 500.000 tahun, dan dipamerkan di
berbagai museum sebagai bukti nyata evolusi manusia. Selama lebih dari 40
tahun, banyak artikel ilmiah telah ditulis tentang "Manusia
Piltdown", sejumlah besar penafsiran dan gambar telah dibuat, dan fosil
ini diperlihatkan sebagai bukti penting evolusi manusia. Tidak kurang dari 500
tesis doktoral telah ditulis tentang masalah ini. (Malcolm Muggeridge, The
End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, hal. 59.)
Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa Manusia
Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah. Ini adalah tengkorak
buatan; tempurungnya berasal dari seorang lelaki yang hidup 500 tahun yang
lalu, dan tulang rahangnya adalah milik seekor kera yang belum lama mati!
Kemudian gigi-giginya disusun dengan rapi dan ditambahkan pada rahang tersebut,
dan persendiannya diisi agar menyerupai pada manusia. Kemudian seluruh bagian
ini diwarnai dengan potasium dikromat untuk memberinya penampakan kuno.
Le Gros Clark, salah seorang anggota tim yang mengungkap pemalsuan ini,
tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dan mengatakan: "bukti-bukti
abrasi tiruan segera tampak di depan mata. Ini terlihat sangat jelas sehingga
perlu dipertanyakan - bagaimana hal ini dapat luput dari penglihatan
sebelumnya?" (Stephen Jay Gould, "Smith Woodward's Folly", New
Scientist, 5 April 1979, hal. 44) Ketika kenyataan ini terungkap, "Manusia
Piltdown" dengan segera dikeluarkan dari British Museum yang telah
memamerkannya selama lebih dari 40 tahun.
Walaupun para evolusionis tidak berhasil menemukan
bukti ilmiah untuk mendukung teori mereka, mereka sangat berhasil dalam satu
hal: propaganda. Unsur paling penting dari propaganda ini adalah gambar-gambar
palsu dan bentuk tiruan yang dikenal dengan "rekonstruksi".
Rekonstruksi dapat diartikan sebagai membuat lukisan
atau membangun model makhluk hidup berdasarkan satu potong tulang yang
ditemukan dalam penggalian. "Manusia-manusia kera" yang kita lihat di
koran, majalah atau film semuanya adalah rekonstruksi.
Ketika mereka tidak mampu menemukan makhluk "setengah manusia setengah
kera" dalam catatan fosil, mereka memilih membohongi masyarakat dengan
membuat gambar-gambar palsu.
Persis seperti pernyataan evolusionis yang lain tentang
asal-usul makhluk hidup, pernyataan mereka tentang asal-usul manusia pun tidak
memiliki landasan ilmiah. Berbagai penemuan menunjukkan bahwa "evolusi
manusia" hanyalah dongeng belaka.
Darwin mengemukakan pernyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu
nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man yang
terbit tahun 1971. Sejak saat itu, para pengikut Darwin telah berusaha untuk
memperkuat kebenaran pernyataan tersebut. Tetapi, walaupun telah melakukan
berbagai penelitian, pernyataan "evolusi manusia" belum pernah
dilandasi oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya di bidang fosil.
Penemuan ini jelas menunjukkan pendapat tentang
sifat-sifat perolehan yang terkumpul dari satu keturunan ke turunan berikutnya,
sehingga memunculkan spesies baru, tidaklah mungkin. Dengan kata lain,
mekanisme seleksi alam rumusan Darwin tidak berkemampuan mendorong terjadinya
evolusi. Jadi, teori evolusi Darwin sesungguhnya telah ambruk sejak awal di
abad ke-20 dengan ditemukannya ilmu genetika. Segala upaya lain dari para
pendukung evolusi di abad ke-20 selalu gagal.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Pengenalan_evolusihttps://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi_(istilah)
https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi
baak.gunadarma.ac.id
studentsite.gunadarma.ac.id
http://www.gunadarma.ac.id
https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi
baak.gunadarma.ac.id
studentsite.gunadarma.ac.id
http://www.gunadarma.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar